Ada masa ketika seseorang sudah melakukan hampir semua yang bisa dilakukan.

Ikhtiar bumi sudah ditempuh. Mencari jalan, mencoba berbagai cara, memperbaiki strategi, mengetuk pintu yang mungkin bisa dibuka.

Ikhtiar langit juga tidak ditinggalkan. Berdoa, salat, istighfar, meminta pertolongan Allah, dan terus berharap.

Tetapi hasilnya belum juga datang.

Di titik seperti ini, kita sering bertanya: kurang apa lagi?

Padahal bisa jadi bukan soal kurangnya usaha. Bisa jadi memang belum waktunya Allah memberikan apa yang sedang kita minta.

Karena ikhtiar dan doa bukan rumus matematika.

Kita kadang membayangkan, kalau sudah melakukan A dan B, maka hasilnya harus C.

Padahal tidak sesederhana itu.

Allah tidak bekerja dengan rumus yang bisa kita tebak. Kalau boleh memakai istilah sederhana, mungkin kita bisa menyebutnya sebagai “algoritma Allah”. Kita tahu apa yang kita minta, tetapi kita tidak tahu bagaimana Allah akan menjawabnya.

Bisa jadi diberikan segera.
Bisa jadi ditangguhkan.
Bisa jadi diberikan dalam bentuk yang berbeda.

Dan sebagaimana dijelaskan dalam hadis tentang doa, jawaban doa juga bisa berupa disimpannya pahala untuk akhirat atau dihindarkannya seseorang dari keburukan yang sepadan dengan doanya.

Karena itu, jangan berhenti berharap hanya karena sesuatu belum datang.

Tetap berdoa.
Tetap berusaha.
Tetap mencari jalan.

Tetapi pada saat yang sama, sisakan ruang di dalam hati untuk sabar, ikhlas, ridha, dan tenang.

Kita boleh berharap sesuatu terjadi. Tetapi jangan sampai harapan itu berubah menjadi keharusan bahwa Allah harus memberikan hasil sesuai dengan waktu, bentuk, dan cara yang kita inginkan.

Sebab semakin kita memaksa sebuah hasil harus terjadi seperti yang kita bayangkan, semakin besar pula rasa sakit ketika kenyataan berjalan berbeda.

Mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana membuat Allah mengikuti rencana kita, tetapi bagaimana tetap tenang ketika rencana kita belum juga menjadi kenyataan.

Bukan berarti berhenti berharap.
Bukan pula berhenti berikhtiar.

Hanya saja, kita belajar memahami bahwa ada bagian dari hidup yang memang tidak berada dalam kendali kita.

Kita tidak tahu kapan jawabannya datang.
Kita tidak tahu bagaimana jalannya.
Kita bahkan tidak selalu tahu mengapa sesuatu harus tertunda.

Dan memang berat.

Tetapi kita tetap berjalan.
Tetap ikhtiar di bumi.
Tetap mengetuk di langit.

Sambil belajar menerima bahwa hasil akhirnya bukan wilayah kita.

Mungkin itu salah satu bentuk tawakal: melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, tanpa memaksa Allah menentukan hasil sesuai dengan rumus yang kita buat sendiri.

Karena kita tidak tahu algoritma Allah.

Dan mungkin memang bukan tugas kita untuk mengetahuinya.